Rivalitas Dwi Y dan Adi Patriyadi, Pembalap Kakak Beradik di MOMRC
Meskipun kakak beradik, persaingan antara pembalap Dwi Y dan Adi Patriyadi selalu menarik perhatian di ajang balap MB Club INA – MOMRC.
Autoride – Rivalitas antara pembalap Dwi Y dan Adi Patriyadi di event balap mobil MB Club INA – MOMRC mungkin bisa lebih sengit dibandingkan melawan pembalap lain yang tanpa ikatan darah. Hal ini yang sering kali tersaji di gelaran balap satu merek Mercedes-Benz di MB Club INA – MOMRC yang menjadi bagian dari ISSOM.
Kiprah kakak adik untuk menggeluti bidang yang sama, seperti di dunia balap kini memang tidak sulit untuk ditemui. Bahkan tak jarang persaingan kakak adik ini bisa lebih sengit dibanding persaingan mereka dengan pembalap lain.
“Kita kalau dalam kondisi top dan proper, biasanya kita bisa ganti-gantian posisi 1 dan 2. Di situ semangatnya lebih tinggi dan tidak ada yang mau kalah dalam bersaing. Bahkan seperti lawan yang bukan saudara meski itu adik saya,” papar Dwi.
Meski begitu, menurut Dwi, jika di luar trek dirinya bersama sang adik lebih banyak sharing. Tidak hanya sharing pengalaman atau diskusi soal balap, namun Dwi dan Adi juga melakukan sharing mobil. Apalagi mobil yang dipakai Dwi di MB Club INA – MOMRC, juga dipakai Adi saat balap di kelas lain di ETCC.

“Tapi kalau buat R&D pas di balap Merce kita harus bersaing, karena kebetulan dia pakai 190 di kelas Avantgarde dengan 6 silinder. Kalau saya kan di kelas SC4 Spirit dengan 4 silinder. Tapi kebetulan mobil masih bisa proper untuk bersaing. Putaran 3 kemarin kita bisa bersaing di posisi 1 dan 2,” jelas Dwi.
“Yang biasa jadi materi sharing dari semua hal, mulai dari di trek seperti apa, bagaimana menjaga kondisi mesin biar stabil, terus kemudian selain itu tuker pikiran mengenai apa saja yang perlu diimprove,” imbuhnya saat berbincang dengan Autoride.
Sejurus dengan sang kakak, Adi menyebut jika persaingan diantara keduanya memang hanya terjadi saat balapan saja. Setelah selesai balap, keduanya akan sama-sama memberikan dukungan satu sama lain. Begitu juga saat riset mobil balap. Yang kebetulan pula mereka ada dalam satu naungan bengkel Garasi 350.

“Kita punya hobi yang sama, akhirnya kita coba untuk balapan dalam satu trek. Walaupun kalau sudah masuk sirkuit tidak ada lagi yang namanya kaka beradik, fight is fight. Selama di trek memungkinkan bisa menang dan juara, ya gak ada toleransi meski kakak beradik. Tapi setelah balapan sama-sama analisa bareng, ada kekurangan apa saja dan sering diskusi,” urai Adi.
“Yang lebih banyak kita sharing biasanya mengenai improvement dari mobil, lalu bagaimana caranya saat balapan bisa tahu racing line dan mendapatkan waktu yang lebih baik. Yang kita bicarakan selalu kalau bisa catatan waktu bisa lebih baik dari sebelum-sebelumnya.”
“Kalau gontok-gontokan saat di luar trek si gak pernah. Selama di balap kita tahu balapan itu seperti apa dan kode etik pada saat di balapan seperti apa kita sudah tahu,” pungkas Adi. (Maston/Foto: Dok. MOMRC)




