Car RacingHighlightRacing

Balap ETCC Terus Cetak Pembalap Muda Indonesia Berprestasi

Lebih dari 10 tahun balap ETCC turut menjadi kelas yang dilombakan dalam gelaran bergengsi ISSOM.

Autoride – Kehadiran balap ETCC (European Touring Car Championship) sejak 11 tahun lalu seakan menjadi pelepas dahaga bagi para insan balap Tanah Air. Balapan khusus mobil-mobil Eropa ini tak pelak menjadi salah satu kelas andalan Indonesia Sentul Series Of Motorsport (ISSOM) yang setiap serinya dilangsungkan di Sirkuit Sentul Bogor, Jawa Barat.

Selama perjalanannya hingga masuki usia 11 tahun, semua stakeholder terkait terus bekerja keras untuk membuat suatu hal yang beda di setiap musimnya. Berbagai perubahan silih berganti dan terus dilakukan demi mengikuti dinamika yang ada.

Your Community Partner

“Alhamdulillah ETCC sekarang sudah memasuki tahun ke-11. Mulai dua tahun terakhir ini kelas Euro 2000 dan 3000 kita gabung jadi satu. Dengan menggabungkan menjadi satu, tentu jumlah peserta bisa memenuhi grid-nya,” buka Nanang Hamdani, Pembina ETCC.

Seiring berjalannya waktu, kini balap ETCC tak bisa dipandang sebelah mata. Pasalnya, balapan ini mampu melahirkan pembalap-pembalap muda berprestasi. Hal tersebut bisa dibuktikan dengan turut sertanya pembalap yang sebelumnya sama sekali belum pernah mencicipi balapan.

-> Yamaha Jawa Barat Ajak Eddi Brokoli Gerebek Konsumen Loyal

Nanang Hamdani, Pembina ETCC

“Evaluasi yang ada cukup menyenangkan karena banyak mobil-mobil yang relatif tahunnya muda juga ikut balap ETCC. Jadi ada progres yang cukup menarik sampai saat ini. ETCC berhasil untuk menarik peserta-peserta baru yang belum pernah ikut balapan sebelumnya, serta bisa timbul kompetisi yang cukup baik di antara pembalap yang ikut di berbagai kelas,” jelas Nanang.

Namun memasuki putaran keempat yang berlangsung pada 3-4 September 2022 lalu, jumlah starter belum memenuhi seluruh grid yang tersedia. Dari 32 nomor grid, starter yang ada hanya 28 pembalap. Sehingga ada 4 grid yang tersisa. Nanang pun berharap di seri-seri berikutnya kuota tersebut bisa terpenuhi.

Your Community Partner

“Seri sebelumnya justru ada kelebihan starter. Jadi kalau kelebihan kita akan mengevaluasinya melalui hasil QTT (kualifikasi). Mereka yang tidak lolos dengan hasil QTT maka pendaftaran yang sudah dilakukan bisa di-refund atau menjadi deposit untuk seri berikutnya,” ujarnya.

-> Bintang Sinergy Mulia (BSM) Turut Majukan Dunia Balap Indonesia Lewat MOMRC

Nanang foto bersama para pembalap ETCC

Menjelang seri-seri akhir (dari kalender ISSOM masih tersisa 3 seri), balapan dirasa semakin kompetitif dan melahirkan persaingan sengit di trek sepanjang balapan berlangsung. Akan tetapi kans juara umum masih terbuka untuk semua pembalap. Artinya, belum ada pembalap yang mengunci juara umum hingga berakhirnya putaran keempat ISSOM 2022.

“Sampai saat ini perebutan juara umum perolehan poin antar pembalap sangat ketat. Masih menyisakan tiga seri sehingga masih memungkinkan terjadinya perubahan klasemen,” tegas Nanang yang juga turut serta menjadi pembalap di kelas 3000 Pro bersama Tim P-Five Racing Indonesia.

Sementara strategi Promotor ETCC untuk menggaet pembalap-pembalap baru juga terus dilakukan. Bahkan mereka siap memberikan insentif-insentif untuk mereka jika hal tersebut diperlukan. Hal itu dilakukan untuk memberikan kemudahan bagi pembalap yang akan turun balap ETCC.

-> Ciptakan Perdamaian, Komunitas Maxelar dan Truemax Gelar Acara Ultah Bareng

“Termasuk kita memberikan edukasi kepada mereka untuk memahami aturan yang ada di trek, mengedukasi juga bagaimana caranya komunikasi antara pembalap dengan marshall melalui bendera. Karena komunikasi antara pembalap dengan marshall itu melalui bendera. Jadi sangat penting untuk pembalap mengetahui arti dari (warna-warna) bendera dan sebagainya,” jelas Nanang.

Strategi itu sepertinya cukup berhasil. Pasalnya memang beberapa pembalap baru bermunculan di ETCC. Bahkan tak segan-segan mereka rela merogoh kocek yang tak sedikit demi bisa membeli mobil untuk digunakan berkompetisi di trek.

“Banyak yang menggunakan mobil baru menunjukkan ada animo yang cukup baik dan ada perkembangan. Karena membangun mobil balap yang berasal dari mobil baru atau yang mobil yang sudah tua pun biayanya hampir sama. Yang membedakan mungkin hanya platform mobilnya saja yang lebih mahal, tapi biaya operasionalnya bisa lebih murah. Karena mobil yang sudah mulai berumur sparepartnya juga susah didapat,” pungkas Nanang. (Maston/Foto: Tono & Dok. ETCC)

-> Galeri Foto: Aksi Perdana Raden Rauf Geber Mobil Balap BMW F30 di Putaran 4 ISSOM 2022 Kelas ETCC

Raden Rauf, salah satu pembalap baru berprestasi di ETCC
Sharing is Caring

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *