Car RacingHighlightRacing

Jelang FIA Rallycross World Cup 2026 Jakarta, Rifat Sungkar Soroti Tantangan Debu di Ancol

Rifat Sungkar memberikan pendangannya terkait akan diselenggarakannta FIA Rallycross World Cup 2026 di Ancol, Jakarta.

AUTORIDE.CO.ID – Indonesia bersiap menjadi tuan rumah FIA Rallycross World Cup 2026 yang akan digelar di Ancol Rallycross Circuit, Jakarta, pada 5-6 Desember mendatang. Pengembangan konsep balap rally di kawasan perkotaan seperti Ancol, Jakarta, menghadirkan tantangan tersendiri.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah bagaimana mengantisipasi debu, terutama jika lintasan digunakan oleh banyak mobil secara bersamaan.

Your Community Partner

Pembalap sekaligus pemerhati motorsport, Rifat Sungkar, menilai karakter debu di Indonesia memiliki perbedaan dengan sejumlah negara lain. Kondisi tersebut membuat aspek konstruksi dan desain lintasan perlu mendapatkan perhatian khusus sebelum sebuah ajang rally digelar di kawasan perkotaan.

“Yang gue harus pelajarin besok di tempat mereka, bagaimana mengantisipasi debu kita. Debu kita tuh gak biasa dibandingin sama negara lain. Negara lain tuh debunya bisa turun. Kita tuh debunya ke atas,” ujar Rifat yang juga aktif di balap sprint rally.

Menurutnya, pengalaman dari ajang Speed Offroad yang pernah digelar SMN dapat menjadi bahan pembelajaran. Namun, terdapat perbedaan mendasar karena pada Speed Offroad, peserta biasanya memulai perlombaan secara terpisah. Sementara dalam konsep rally dengan delapan mobil berada di jalur yang sama, potensi gangguan akibat debu menjadi lebih besar.

“Bisa belajar dari speed offroad waktu SMN, tapi speed offroad start masih sendiri-sendiri. Ini kan berlapan sejalur. Maksudnya kan potensi delapan kali lebih banyak debunya. Lalu gimana mengantisipasi debu itu,” lanjutnya.

Rifat juga melihat konsep membawa balap rally ke tengah kota sebagai sebuah tantangan tersendiri. Selain persoalan teknis, lokasi lintasan harus mempertimbangkan lingkungan sekitar, khususnya keberadaan kawasan permukiman.

Your Community Partner

Menurutnya, lokasi ideal untuk lintasan tetap perlu memiliki jarak yang cukup dari area perumahan karena potensi debu yang dihasilkan selama perlombaan. Selain itu, antusiasme masyarakat juga perlu dilihat karena karakter balap rally memiliki risiko kontak antarmobil yang berbeda dengan beberapa jenis balapan lainnya.

“Pertama terkait lokasinya, tetap harus agak jauh dari perumahan. Karena debunya. Kedua kita ngeliat dulu ya antusiasinya seberapa gede. Karena problemnya di sini adalah mentality. Ini kan full body contact. Kalau tabrak-tabrakan lo siap gak?” jelas Rifat.

Meski Ancol berdekatan dengan kawasan perumahan, Rifat melihat komposisi permukaan trek menjadi salah satu keuntungan. Jika lintasan di Ancol memiliki sekitar 70 persen aspal dan 30 persen tanah, maka area tanah yang berpotensi menghasilkan debu relatif lebih sedikit.

“Kalau di Ancol treknya 70 persen aspal, 30 persen tanah. Yang bikin 70 persen aspal kan susah. Kalau tempat lain kan pasti kebalik, 70 persen tanah, 30 persen aspal,” ungkapnya.

Rifat tidak menyebutkan persentase ideal antara trek aspal dan tanah. Namun, menurutnya, pada lintasan entry level, aspal biasanya lebih banyak digunakan pada bagian start, sementara sebagian besar lintasan menggunakan permukaan tanah. Kondisi inilah yang membuat pengendalian debu menjadi salah satu aspek penting dalam merancang trek rally di kawasan perkotaan. (Maston/Foto: Sonny Hastara)

Sharing is Caring

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *