Ketua NMS Sidoarjo, Ganjar Gumilar Susur Budaya Borneo di Kesultanan Banjar
Ketua NMS Sidoarjo, Ganjar Gumilar masih dalam agenda touring keliling Pulau Kalimantan sejak 21 Juli 2022 lalu.
Autoride – Susur budaya Borneo menjadi salah satu misi yang dijalankan oleh Ketua NMS Sidoarjo, Ganjar Gumilar dalam touringnya ke Kalimantan. Dan salah satu tempat yang dia singgahi adalah Kesultanan Banjar yang berada di Kuin Utara, Kuin Banjarmasin. Kesultanan Banjar adalah Kerajaan Islam di Kalimantan yang didirikan oleh Raden Samudera atau Sultan Suriansyah.
Dikutip dari Kompas.com, Kerajaan Banjar berdiri pada abad ke-16 hingga abad ke-20, lebih tepatnya dari tahun 1520 hingga 1905 Masehi. Selama hampir empat abad berdiri, kesultanan ini mengalami beberapa kali perpindahan ibu kota pemerintahan, hingga yang terakhir di Kayu Tangi atau sekarang dikenal sebagai Martapura, Kalimantan Selatan.
Puncak kejayaan Kerajaan Banjar berlangsung pada masa pemerintahan Sultan Mustain Billah (1595-1638 M). Di bawah pemerintahan Sultan Mustain Billah, Banjar menjadi bandar perdagangan besar dengan komoditas utamanya terdiri dari lada hitam, madu, rotan, emas, intan, damar, dan kulit binatang.
Sedangkan wilayahnya berhasil diperluas hingga Sambas, Lawai, Sukadana, Kotawaringin, Pembuang, Sampit, Mendawai, Kahayan Hilir, Kahayan Hulu, Kutai, Pasir, Pulau Laut, Satui, Asam Asam, Kintap, dan Sarangan.
-> Indonesia Vespa Days (IVD) 2022 Dihelat Untuk Peringati Hari Ulang Tahun Vespa ke-76
Kesultanan Banjar dapat dikatakan sebagai penerus kerajaan bercorak Hindu di Kalimantan, yaitu Negara Daha, Kuripan atau Amuntai, Gagelang, Pudak Sategal, dan Pandan Arum.
Sejarah Kerajaan Banjar pun tidak lepas dari Negara Daha, kerajaan Hindu yang pernah berkuasa saat itu. Raja Negara Daha, Raden Sukarama, mewasiatkan takhta kerajaan kepada cucunya, Raden Samudera. Namun, anak Raden Sukarama, Pangeran Tumenggung, merebut takhta hingga memaksa Raden Samudera melarikan diri dan bersembunyi di daerah hilir Sungai Barito karena nyawanya terancam.
Melihat sejarahnya, pengaruh agama Islam oleh Khatib Dayan dari Kesultanan Demak di Banjar menjadi sangat dominan mempengaruhi kebudayaan Kota Banjarmasin dan sekitarnya. Hal ini terbukti dari peninggalan Kesultanan Banjar berupa masjid yang memiliki ragam arsitektur menyerupai Masjid Agung Demak di Jawa Tengah.
-> Honda PCX Club Indonesia (HPCI) Sidoarjo Rayakan Ultah ke-4
“Kalau saat ini bangunan kerajaannya memang sudah tidak ada. Jadi peninggalan yang ada itu hanya makam raja pertama dan istri sampai raja ketiga. Lokasi pemakamannya berada di lahan yang dulu menjadi lokasi berdirinya kerajaannya,” papar Ganjar.
“Bagi saya yang menarik karena ada satu sumur yang dulunya dipakai wudhu oleh Sultan Suriansyah. Sumur tersebut sampai sekarang dikeramatkan. Selain itu juga ada museum yang memperlihatkan sedikit barang-barang peninggalan dari Sultan Suriansyah,” sambungnya kepada Autoride.
Bagi para pengunjung tidak usah khawatir, karena untuk bisa masuk di lokasi tersebut tidak dipungut biaya alias gratis. Meski begitu, di sana ada juru kuncinya yang sangat hafal dengan silsilah Kerajaan Banjar. “Orang yang datang ke sana hanya untuk ziarah saja, mendoakan Sultan Suriansyah,” pungkas Ganjar. (Maston/Foto: Dok. Ganjar)
-> PEVS 2022 Jadi Bukti Nyata Kemajuan Ekosistem Kendaraan Listrik Indonesia






